Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (12)

Melintasi Zaman

            Setelah Inyiak Parabek wafat pada tahun 1963, para sahabat dan muridnya telah siap melanjutkan perjuangan. Warisan “hidup” berupa Sumatera Thawalib Parabek tak boleh mati, seperti yang menjadi wasiatnya.Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (12)

            Pembentukan Yayasan Syekh Ibrahim Musa yang sempat tertunda, segera dilaksanakan pada tahun 1963, sebagai amanah Inyiak Parabek bahwa madrasah ini adalah milik ummat, bukan milik pribadi atau keluarga. Ketua Yayasan yang pertama, H Abdul Munir Dt Palindih bersama segenap jajarannya meneruskan pengelolaan madrasah seperti  saat masih dipimpin oleh Inyiak Parabek. Hanya mulai ada penyederhanaan adalah pola pendidikan. Jika di era awal waktu pendidikan yang dibutuhkan di madrasah ini 11 tahun  (Sumatera Thawalib 4 tahun, Kuliyatudiyanah 4 tahun, dan  Takhasus 3 tahun), maka di era setelahnya disederhanakan menjadi 8 tahun : Sumatera Thawalib 4 tahun dan Kuliyatuddiyanah 4 tahun. Dan kemudian disederhanakan lagi menjadi total 7  tahun, lengkap dengan program Tsanawiyah (setingkat SLTP) dan Aliyah (setingkat SLTA) dan program takhassus/ma’had aly.

            Hingga tahun 1968, pola pendidikan yang digunakan juga tidak banyak berubah. Para pimpinan dan pengelola sekolahnya yang berganti. Di tahun itu, Ustadz Abdul Muis St Batungkek Ameh menjadi pimpinan sekolah, Buya H Abdur Rahman menjadi Kepala Madrasah Tingkat Tsanawiyah (4 tahun) dan Buya Mukhtar Said menjadi kepala Kulliyatuddinayah (3 tahun).

            Sistem ini terus dipertahankan hingga tahun 1978. Ketika itu yang menjadi kepala sekolah adalah Abdul Munir Jala dan Ustadz Abdul Gafar sebagai wakil kepala sekolahnya. Perubahan sistem pendidikan mulai dilakukan pada tahun 1979, ketika pada tahun ajaran 1979/1980 lama pendidikan diubah menjadi 6 tahun ( 3 tahun tingkat Tsanawiyah, 3 tahun tingkat Aliyah), sesuai sistem pendidikan nasional yang berlaku. Keputusan ini juga merupakan hasil musyawarah Yayasan Syekh Ibrahim Musa dengan alumni, rektor IAIN, Kakanwil Depag dan para ulama pada 1 Juli 1979.

            Model pendidikan seperti itu terus dilanjutkan. Pada tahun 1982 Pimpinan Madrasah Sumatera Thawalib dipegang oleh  Ustadz H. Hasan Mahdi MA (lulusan Universitas Al-Azhar Kairo), dengan sistem pendidikan mengikuti kurikulum Departemen Agama, tanpa mengurangi pelajaran identitas Sumatera Thawalib. Saat itu, kepala sekolah tingkat Tsanawiyah : Ustadz Abdul Munir Jalal, sedangkan tingkat Aliyah : Ustadz Abdul Gafar.

            Di tahun 1989 pimpinan Yayasan dan sekolah kembali mengalami pergantian. Ketua Yayasan saat itu adalah : H.A Kamal SH. Pimpinan madrasah (Tsanawiyah dan Aliyah) disatukan  dan dipegang oleh : H.Muchtar Said, dibantu  Abdul Munir Jalal sebagai ketua bidang pendidikan, dan Abdul Gafar sebagai ketua bidang sarana prasarana. Tahun 1991 Pimpinan Madrasah Sumatera Thawalib  dirangkap oleh ketua Yayasan H.A Kamal SH dan wakil kepala sekolah (tingkat Tsanawiyah dan Aliyah) dijabat oleh : Drs Zakiruddin. Pada tahun 1998  Ketua Yayasan dijabat oleh H.Achyarli Jalil SH. Status madrasah juga menjadi “disamakan”. Kepala Madrasah Tsanawiyah adalah Dra Hj Farida R dan Kepala Aliyah : Drs Muchlis. Setahun kemudian, tahun 1999 Kepala Aliyah digantikan oleh Ustadz Deswandi.  Ketua Yayasan Syekh Ibrahim Musa kemudian berganti lagi pada 2003 dengan  ketua : H.Zulharbi Salim, hingga akhirnya pada tahun 2006  H.Zulharbi Salim mengundurkan diri, dan digantikan oleh Ir H.Novizar Zen. Pimpinan madrasah juga mengalami perombakan pada tanggal 8 Juli 2007 dengan  struktur baru. Pimpinan Madrasah adalah : Syekh  H Khatib Muzakkir, Wakil Pimpinan Madrasah : Deswandi, Kepala Aliyah Drs Zulfahmi, dan Kepala Tsanawiyah Dra Hj Farida. Di tahun 2008 Kepala Tsanawiyah diganti Ustadz Nurdin S.Ag, karena kepala sekolah sebelumnya memasuki masa pensiun.

            Hingga tahun 2010, genap 100 tahun  Sumatera Thawalib Parabek berkiprah mencetak generasi Islam unggulan. Madrasah ini telah melintasi zaman yang cukup panjang. Berbagai tantangan dihadapi, termasuk pasang surutnya  kejayaaan. Jika di masa Inyiak Parabek madrasah ini pernah dikenal sebagai penghasil ulama-ulama besar, maka ada masa dalam perjalanannya, madrasah mengalami pergeseran peranan karena kondisi sosial masyarakat yang juga telah jauh berubah.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait;

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi toko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *