Oleh : Subhan Afifi, darussalamselokerto.sch.id
Jihad adalah amal yang utama dan mulia dalam Islam. Secara bahasa Jihad diambil dari kata Al-Jahdu atau Al-Juhdu yang bermakna kekuatan, usaha, susah payah, kesulitan, dan kemampuan. Dari sisi istilah (terminologi), jihad bermakna adalah memerangi orang kafir, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuan, baik berupa perkataan atau perbuatan.”. Jihad juga bermakna : mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.” Khazanah tentang jihad, dikenal 3 macam jihad, yaitu : Jihad melawan musuh yang nyata, Jihad melawan setan dan Jihad melawan hawa nafsu.
Jihad melawan musuh yang nyata, berupa orang kafir ataupun orang-orang fasiq dengan menggunakan kekuatan, tangan, lisan dan juga hati. Jihad melawan hawa nafsu dilaksanakan dengan mempelajari dienul Islam secara benar, kemudian mengamalkan dan mendakwahkannya. Sedangkan jihad melawan syetan adalah perjuangan melawan berbagai bentuk syubhat dan syahwat yang selalu menjadi hiasan dan tipu daya syetan untuk menggoda manusia.
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [At-Taubah/9: 41]
Bagi seorang muslim, jihad adalah puncak ketaatan kepada Allah Ta’ala. Jihad pada hakekatnya adalah seluruh ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan seluruh perintahNya, berusaha keras menjauhi semua laranganNya, sekaligus berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengajak orang lain berada dalam ketaatan yang sama kepada Allah Ta’ala. Puncaknya adalah adalah memerangi orang-orang kafir untuk menegakkan kalimat Allah Azza Wa Jalla.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah pernah menyampaikan prinsip dasar tentang jihad untuk menjadi renungan kita bersama :
‘Jihad melawan hawa nafsu adalah prinsip (dasar yang dibangun di atasnya) jihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mampu berjihad (melawan) orang kafir dan munafik, sehingga dia berjihad melawan dirinya dan hawa nafsunya lebih dahulu sebelum melawan mereka (orang kafir dan munafik).’
Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ‘Imran/3: 142]
عَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –تَبَارَكَ وَتَعَالَى–، فَإِنَّ الْـجِهَادَ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْـجَنَّةِ ، يُذْهِبُ اللهُ بِهِ مِنَ الْهَمِّ وَالْغَمِّ.
“Wajib atas kalian berjihad di jalan Allah Tabaaraka wa Ta’ala, karena sesungguhnya jihad di jalan Allah itu merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu Surga, Allah akan menghilangkan dengannya dari kesedihan dan kesusahan.” ( HR. Al-Hakim)
Demikian mulianya jihad dengan berbagai keutamaan bermuara surga yang mengikutinya, menyebabkan seluruh muslimin dan muslimat didorong untuk meraihnya. Kewajiban jihad berlaku untuk muslimin dan muslimat, laki-laki dan perempuan.
Bentuk jihad tentu bermcam-macam. Umrah, sebagaimana haji, adalah jihad. Aisyah Radiallahu ‘Anha pernah bertanya kepada Rasululloh, tentang kewajiban jihad bagi kaum perempuan :
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ »
“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah).
Umrah adalah perjalanan yang mulia, membutuhkan pengorbanan harta, waktu, tenaga dan kesungguhan yang berbalut keikhlasan hanya mencari keridhaan Allah Ta’ala semata. Berdasarkan pertanyaan Aisyah Radiallahu ‘Anha dan jawaban Rasulloh Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam hadist di atas, maka umrah sebagaimana haji adalah jihad.
Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala untuk menjalankan umrah yang mulia. Amin ya Rabb. (***)