Oleh : Azzam Abdussalam
JIka tersebut salah satu pernak pernik surga yang masih berada di bumi, maka hanya tinggal satu adanya.
Dulu
Memang pernah ada manna dan salwa. Mukjizat nabi Musa sekaligus kenikmatan Allah bagi bani Isra’il. Keduanya adalah makanan berturun surgawi yang amat lezat lagi nikmat terasa. Namun sekarang, manna dan salwa telah tiada di muka bumi. Yang tersisa dari surga saat ini di bumi : Hajar Aswad.
Sunnah Menciumnya
Hal ini bersebab perbuatan Rasul shallahu alaihi wasallam yang dipertegas oleh Umar bin Khattab,
عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ
“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar mencium hajar Aswad. Lantas Ia berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).
Disunnahkan mencium hajar aswad serta mengusapnya dengan tangan kanan kemudian bertakbir sebagaimana yang dilakukan Nabi shallahu alaihi wasallam.
Jika tak mampu menciumnya karena ramainya manusia, maka cukup memberi isyarat dengan tangan saja.
Batu surga putih warnanya
نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ
“Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu”
Demikian yang dituturkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam dan dirawi oleh Ibnu Abbas -semoga Allah meridhainya dan akupun ridha padanya-.
Lantas apa yang membuatnya hitam kelam sejalan namanya? (hajar=batu, aswad=hitam, bahasa arab-pent)
فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ
“Dihitamkan karena dosa-dosa anak Adam..”
( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)
Dosa manusialah penghitam hajar Aswad.
Dosa dan maksiat ialah sumber segala musibah dan kerusakan di muka bumi. Jangan remehkan dosa sekecil apapun ia. Sedikit maksiat sudah cukup mendatangkan marabahaya bagi diri, keluarga, serta timpaan musibah di muka bumi.
Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyâhi mengatakan, “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allâh di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena bumi dan langit itu baik dengan sebab ketaatan (kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala -pent)” Dinukil oleh Imam Ibnu Katsîr dalam tafsir beliau (3/576).
Tidak terkecuali dalam hal ini, musibah dan “kerusakan” yang terjadi dalam rumah tangga, seperti hubungan yang tidak harmonis antara suami dan istri, sering terjadi pertengkaran, penyebab utama semua ini adalah perbuatan maksiat yang dilakukan oleh sang suami atau istri.
Inilah makna yang terungkap dalam ucapan salah seorang ulama Salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allâh, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…” Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab ad-Dâ’u Wad Dawâ’.
Hajar Aswad dan dosa
Umrah adalah perjalanan penuh hikmah. Setiap lika-liku perjalanannya terdapat ibrah yang berharga. Salah satu lini faidah yang teraih dengan umrah adalah mentafakkuri dosa di hadapan hajar aswad.
Dosa manusia ini, kalau bukan karena kasih sayang dan kemurahan Allah, akan hancur seluruh bumi dan segala isinya hingga hewan dan tumbuhan.
Pencipta (Fāţir):45 – Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun…
Matinya para pendosa merupakan sebab menurunnya angka musibah dan marabahaya.
Dosa yang efeknya tak hanya pada pelakunya, namun juga berimbas kepada sebongkah batu yang tak pernah bermaksiat kepada Allah ta’ala. Perhatikan batu surgawi ini dalam-dalam.
فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ
“Hajar aswad itu dihitamkan karena dosa-dosa anak Adam..”
Dan satu perkataan lagi, efek dosa yang menular kepada seluruh penduduk bumi, sebagaimana penukilan Ibnu Katsir yang bersumber dari Abul Ahwash :
كَادَ الجُعْلُ أَنْ يُعَذَّبَ بِذَنْبِ بَنِي آدَمَ
“Hampir saja seekor kumbang ikut diadzab karena (banyaknya) dosa manusia”.
“Itu artinya..” jelas Ibnu Katsir lebih lanjut, “kalau bukan karena rahmat Allah, binatang-binatang akan ikut diadzab sebagaimana Allah mengadzab manusia atas dosa yang mereka perbuat.”
Referensi :
almanhaj.or.id,
quran.ksu.edu.sa
