Menjadi Tamu Allah dengan Berumrah

Oleh : Azzam Abdussalam
Kalau seorang rakyat jelata diundang ke istana raja sebagai tamu kehormatan, bagaimana kiranya perasaan sang rakyat itu? Lebih lanjut lagi, apapun yang diminta oleh si rakyat ini akan dikabulkan oleh sang raja. Maka masihkah tersisa keengganan dalam hatinya untuk memenuhi undangan sang paduka?
Jika sang rakyat memiliki kemampuan untuk menjawab undangan raja, bukankah amat tak sopan untuk sengaja tak mendatanginya? Entah tahu atau pura-pura tak tahu, undangan dari raja bukanlah undangan sembarangan.
Begitupula dengan Sang Raja diraja, Allah Subhanahu wa ta’ala.
Dari sekian juta hamba-hamba-Nya yang beriman, terpilihlah beberapa insan yang berhak mendapat kehormatan sebagai tamu istimewa Allah azza wajalla.
Siapakah mereka?
الغَازِي فِي سَبِيْلِ اللّهِ وَ الحَاجُّ وَ المُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang menunaikan haji, serta orang yang berumrah, mereka semua adalah tamu-tamunya Allah.” begitulah sabda Nabi tercinta alaihissholatu wassalam.
Predikat tamuh kehormatan, “wafdullah” yang berarti “tamunya Allah” salah satu jalan termudah meraihnya ialah berumrah. Orang-orang yang berumrah adalah tamu-tamunya Allah. Hal ini sekaligus menunjukkan banyaknya fadhilah ibadah ini. Bertamu ke baitullah dengan terhormat sudah cukup menggambarkan betapa agungnya ia. Meskipun terdapat keutamaan -keutamaan yang lain, wafdullah teramat mulia jika dilihat dari sifat dan balasannya.
Sifat Mereka 
Hal ini sebagaimana yang Rasul shallahu alaihi wasallam gambarkan..
دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ
“Allah memanggil mereka, maka merekapun menjawab panggilan-Nya.”
Dari seperatus negeri benua, berkilo-kilo meter jauhnya, serta berlelah-lelah safarnya, mereka datang memenuhi undangan. Harta, fisik, dan mental turut mereka siapkan. Persiapan yang matang memang tak mudah dilakukan dan terkadang adapula kesusahan. Perlu mengurus paspor, visa, imunisasi meningitis dan lain-lainnya. Ini merupakan kewajaran karena predikat ‘tamu kehormatan’ ini bukan sesuatu yang murah untuk dibeli. Terlebih jika menilik balasan yang Allah siapkan.
وَ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Mereka memohon kepada Allah, maka Dia pun mengabulkan permohonan mereka.”
Permintaan yang dikabulkan! Itulah balasan mulia para tamu Allah ini. 
Karena itu, jika terdapat sebuah granttee alias jaminan atas pengabulan do’a, mengapa tak jua hati tergerak memanfaatkan? Mintalah segala sesuatu yang tinggi dan terindah. Sesuatu yang menjadi pengharapan diri serta penantian panjang kita. Sesuatu yang padanya hati berharap, qalbu merindu, serta asa merajut penuh cita. Dan diatas semua itu, adalah persahabatan yang haqiqi, bersama Nabi shallahu alaihi wasallam di atas surga yang abadi.
Perintah Nabi shallahu alaihi wasallam :
إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الفِرْدَوْسَ
“Jika kalian berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, maka mintalah surga firdaus!”
Mintalah sesuatu yang tinggi dan jangan minta yang biasa-biasa saja. Mintalah sesuatu yang termulia dan bukan yang ecek-ecekan. Agar segala cita-cita tinggi kita terjamin untuk dikabulkan ada satu dari sekian banyak jalan. Yaitu berumrah.
Laba Berumrah
minimalnya ada tiga :
– Meraup keberkahan tanah suci. Tanah yang diberkahi dan dido’akan oleh Nabi Ibrahim.
– Mendapat pahala sholat 100.000 kali di masjidil haram. Pahala ini takkan pernah tergantikan oleh tempat manapun dan kapanpun.
(hadits nabi shallahu alaihi wasallam)
–  dan yang terpenting dari itu semua, Meraih predikat sebagai wafdullah atau “tamu Allah”. Tamu teristimewa yang akan dikabulkan segala permintaannya oleh Sang Tuan Rumah, Pemilik masjidil haram.
Selamat berumrah! Semoga kita semua adalah bagian dari mereka : para tamu Allah subhanahu wata’ala.
.
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *