Oleh : Azzam Abdussalam
Ibadah yang begitu besar berpahala, harta yang terkumpul berbulan-bulan lamanya, hingga energi fisik serta mental yang terkuras habis selama berumrah, akan sia-sia tak berbalas pahala sama sekali, bahkan sebesar dzarrah pun tak ada.
Kapan?
Ketika kita tidak mengikhlaskan niat untuk Allah subhanahu wata’ala.
Ikhlas adalah sesuatu yang harus selalu diusahakan. Selalu dijaga dan diulang-ulang.
Tidak boleh meskipun sedetik kita merasa sudah ikhlas.
Imam As-Susi berkata
الإِخْلَاصُ فَقْدُ رُؤْيَةِ الإِخْلَاصِ فَمَنْ شَاهَدَ فِي نَفْسِهِ الإِخْلَاصَ فَقَدِ احْتَاجَ إِخْلَاصُهُ إِلَى الإِخْلَاصِ
“Keikhlasan yang benar itu adalah seseorang tidak menganggap dirinya sudah berikhlas. Barangsiapa yang merasa sudah ikhlas, maka rasa ikhlas (yang dia anggap) itu butuh diikhlaskan lagi.”
Maksudnya, kita harus berusaha mengikhlaskan hati. Tidak boleh sekalipun merasa sudah ikhlas. Perasaan bahwa kita sudah ikhlas inilah yang membahayakan hati.

Memang munculnya sebuah keinginan untuk dipuji dan pamer itu adalah hal yang wajar yang merupakan bagian dari was-was syaitan.
Terkadang kita memang tidak bisa menolak munculnya rasa riya’ dalam hati. Namun yang terpenting adalah apa kondisi hati kita setelah muncul rasa riya’ itu : berusaha menolaknya atau malah menyetujuinya.
Pahala yang berlipat
Setelah kita berusaha untuk berikhlas, kiat berikutnya adalah melipatgandakan pahala.
Ada sebuah kaidah tazkiyatun nufus yang berbunyi :
الأعمال الحسنة بكثرة النيات الحسنة
“Banyaknya pahala kebaikan bergantung pada banyaknya niat kebaikan.”
Multi niat inilah yang memancing multi pahala.
Kebanyakan orang hanya meniatkan satu jenis amal perbuatan saja. Padahal jika ia meniatkan amal tersebut sebagai sarana menuju amal ibadah lainnya maka pahalanya akan semakin bertambah.
Contoh multi niat dalam sholat :
-Niat sholat agar menjaga tiang agama.
-Agar terhindar dari perbuatan keji dan mungkar.
-Agar dipanggil dari pintu sholat di hari kiamat.
-Sebagai bentuk pelaksanaan terhadap perintah Allah.
-Sholat dengan khusyuk untuk memperbaiki seluruh amalan.
Bahkan dalam hal mubah pun bisa diterapkan niat yang berpahala.
Contoh ketika akan tidur :
-Menguatkan badan agar bisa bangun pagi sholat subuh.
-Menjaga kesehatan yang merupakan nikmat Allah
-Menyegarkan pikiran agar bisa menghapal Al-Qur’an
-Agar kuat mencari nafkah
-Agar bisa sehat membaktikan diri pada orangtua.
Dalilnya adalah hadits :
Perkataan muadz bin jabal :
Jika anda tidur dalam kondisi berniat seperti yang diatas, bayangkan berapa pahala yang anda dapatkan selama 8 jam?
Hanya satu permasalahan kita selama ini.
LALAI!
Ya. Kita lalai untuk menghadirkan niat ibadah dalam setiap gerak-gerik kita. Kita makan sekedar makan, sholat cuma sekedar sholat, bahkan buang hajat hanya sekedar buang hajat.
Tidak ada nilai ibadah yang terasa dan tak ada pula pengaruh amal shalih terhadap batin dan lahir kita.
Hanya ada satu solusi :
KESADARAN
Sebagaimana disebutkan dalam kaidah
عَادَاتُ أَهْلِ اليَقْظَةِ عِبَادَاتٌ
“Kebiasaannya orang yang selalu sadar itu adalah ibadah.”
Kalau kebiasannya saja (seperti makan, minum, mandi, dsb) sudah bernilai ibadah, maka bagaimana dengan ibadah itu sendiri?
Umrah sebagai salah satu ibadah agung seorang muslim tak boleh luput dari praktek niat ini. Inilah perdagangan para ulama’.
تِجَارَةُ العُلَمَاءِ تِجَارَةُ النَّوَايَا
“Perdagangannya para ulama’ (orang yang cerdas dalam beramal) adalah perdagangan niat.”
Inilah bentuk “kerja cerdas” dalam beribadah. Mendapatkan output (berupa pahala) yang lebih melimpah dengan waktu dan tenaga yang lebih sedikit.
Terakhir saya contohkan pada anda multi niat yang dapat dilakukan ketika akan naik pesawat menuju tanah suci. Anda menapakkan kaki di pesawat dengan niat agar bisa :
-Berumrah
-Sholat di masjidil haram
-Berdo’a di multazam
-Memenuhi panggilan Allah
-Ziarah ke masjid nabawi
-Melakukan sunnah mencium hajar aswad
Bayangkan, ini baru naik pesawat saja, bagaimana jika telah menyampai Makkah, berthawaf di baitullah, hingga bersa’i antara shafa dan marwah?
Praktekan multi niat ini. Insya Allah pahala berkali-kali lipat akan datang. Dengan satu amalan, balasan dari Allah akan semakin melimpah. Biiznillah ta’ala.